Minggu, 10 Januari 2016

Sejarah Republik Lan Fang Di Singkawang Kalimantan Barat

Sejarah Republik Lan Fang Di Singkawang Kalimantan Barat
kota singkawang

Di Kalimantan Barat pada akhir abad ke 18, Clan Hakka (Kek) Yang berasal dari daerah Kwantung (Kanton) Cina, membentuk komunitas dengan pemerintahan sendiri yang berbentuk seperti layaknya suatu Republik Di Kalimantan Barat, tepatnya di Mandor.

"Republik" ini bertahan selama 107 tahun dan mempunyai 10 Presiden. Presiden pertama  adalah Lo Fong Pak ( Low Lan Pak ), ia lahir pada tahun 1738 di Kwantung, Mei Hsien, distrik Shih Pik Pao pada tahun ketiga dinasti Ching. Ia mengawini seorang gadis dan mempunyai seorang putera. Menurut kebiasaan Hakka mereka tidak membawa istrinya selama perjalanannya ke luar negeri.

Di usia 34 tahun, ia menuju ke Kalimantan Barat untuk memburu emas (gold rush). Pengusaha waktu itu Sultan Panembahan, mendengar orang dari Cina adalah pekerja pekerja yang keras, maka ia mendatangkan 20 orang Tionghoa dari Brunei. Sultan Omar Di Sambas juga mendengar kerajinan orang Tionghoa dan menggunakan sistem penyewaan tanah untuk mendorong orang-orang Tionghoa berusaha di wilayahnya.

Awal tahaun 1740 jumlah orang-orang Tionghoa di Kalimantan Barat hanya berjumlah puluhan orang, dan tahun 1770 jumlah mereka telah mencapai sekitar 20.000 orang. Mereka yang merasa sedaerah dan sedarah kemudian mereka membangun Kongsi (Perusahaan) untuk melindungi kepentingan  dan diri mereka sendiri. Pada tahun 1776, 14 Kongsi bergabung bersama-sama membentuk Hesoon 14 Kongsi untuk mendobrak kebuntuan yang di akibatkan oleh pengelompokan yang berdasarkan daerah tersebut. Low Lan Pak kemudian membangun Kongsi sendiri, yaitu Lan Fang Kongsi dan berhasil menyatukan semua orang sukubangsa Hakka di daerah yang di namakan San Shin Cing Fu (Danau Gunung Berhati Emas), dan kemudian mereka membangun kota Mem-Tau-Er  sebagai markas besar kelompok usaha mereka.

Kemudian Low Lan Pak membangun administrasi sebagaimana layaknya suatu pemerintahan dengan menggunakan nama perusahaannya. Pada tahun1777 Low Lan Pak menyatakan berdirinya Republik Lan Fang. Pada waktu itu para pedukungnya ingin mengangkat Low Lan Pak menjadi Sultan, namun ia menolak dan memilih jabatan yang sekarang setara dengan jabatan Presiden di sebuah Republik. Ibukotanya berasa di Leh Wan Li. Jabatan Ta Tang Con (Presiden) dipilih melalui pemilihan. Presiden dan Wakil Presiden harus di pegang oleh orang Hakka dari Ka Yin atau Ta Pu. Benderanya adalah bendera kuning empat persegi panjang dengan kata-kata Lan Fang Ta Tong Ci. Panji kepresidenan berbentuk segitiga bewarna kuning denga kata Chuao (Jendral). Pejabat tingginya berpakaian Cina, sedangkan jabatan yang lebih rendah mengenakan pakaian ala Barat. Berdasarkan catatan perusahaan Lan Fang, setiap tahunnya mereka membayar upeti kepada Dinasti Ching di Cina. 

Low Lan Pak dalam masa pemerintahannya telah menjalankan sistem perpajakan, dan Republik Lan Fang juga mempunyai kitab undang undang hukum, menyelenggarakan sistem pertanian dan pertambangan yang terarah, membangun jaringan transportasi, dan mengusahakan ketahan ekonomi berdikari, lengkap dengan perbankannya. Sistem pendidikan tetap diperhatikan bahkan semakin di kembangkan, karena Low Lan Pak sendiri  asalanya memang seorang Guru.

Pada waktu itu pontianak yang terletak di muara Sungai Kapuas adalah daerah perdagangan yang penting dan diperintah oleh Sultan Abdulrachman. Sedangkan bagian hulu dari sungai Kapuas di kuasai oleh orang Dayak. Kesultanan yang berbatasan dengan Khun Tien adalah Mempawah. Sultan Pontianak mencoba  membangun istana agak ke hulu sungai yang dekat  dengan perbatasan kesultanan Mempawah dan hal ini memicu perang antara kedua kesultanan.

Pada perang ini (1794) sultan khuntien di bantu oleh Lan Fang Kongsi karena kedektan di antara mereka. Sultan Mempawah kalah dalam pertempuran tersebut, kemudian bergabung dengan Dayak untuk melakukan serangan balasan. Namun Low Lan Pak kembali mematahkan kekuatan Sultan Mempawah, dan bahkan kali ini Sultan Mempawah didesak terus ke Utara sampai Singkawang. Pertempuran ini berakhir dengan perjanjian perdamaian antara Sultan Singkawang dan Sultan Mempawah dengan Low Lan Pak. Dengan kemenangan ini popularitas Low Lan Pak melesat dramatis, ketika itu ia berumur 57 tahun. Rakyat dan orang Tionghoa itu mencari perlindungan pada Lo Fang Pak, bahkan Sultan Khun Tien menyadari bahwa ia tak sanggup melawan kekuatan militer Low Lan Pak, sehingga Sultan sendiri bernaung di bawah perlindungan Low Lan Pak. Presiden Low Lan Pak wafat pada tahun 1795, setelah tinggal di Kalimantan selama lebih dari 20 tahun.

Semasa Presiden Ke lima Liew Tai Er, Belanda memulai expansinya ke Kalimantan dan kemudian menduduki daerah Kalimantan Tenggara. Lan Fang kehilangan otominya dan menjadi sebuah negara yang di lindungi oleh Belanda. Kemudian Belanda membuka sebuah kantor kolonial di Khun Tien (Pontianak) dan menjadi perantara untuk urusan-urusan Republik. Pada Tahun 1884 Singkawang menolak di perintah oleh Belanda dan akibatnya mereka di serang oleh tentara Belanda. Setelah bertempur selama 4 tahun pasukan yang di biayai oleh Kongsi Lan Fang akhirnya kalah, dan kemudian orang-orang Tionghoa lari ke Sumatera. Belanda kemudian menguasai Kongsi Lan Fang.

Karena takut reaksi keras dari pemerintah Ching di Cina, Belanda tidak mau menyatakan bahwa mereka telah menduduki  Lan Fang dan bahkan masih mengizinkan salah satu ahli warisnya menjadi Tokoh setempat. Hal itu berlangsung sampai tahun 1912 sampai terbentuk Republik Cina di bawah Dr.Sun Yatsen. Baru setelah itu Belanda berani secara resmi menyatakan kekuasaan pemerintahannya di Kalimantan.

Mereka yang lari ke Sumatera berkumpul kembali di Medan, dan kemudian dari sana beberapa orang menyebrang ke Kuala Lumpur dan Singapura. Orang Hakka yang mendirikan Lan Fang kedua di Singapura adalah kelompok minoritas, namun mereka memainkan peran penting di Singapure.

Selain Lee Kuen Yew, orang-orang hakka yang terkenal antara lain Dr. Sun Yatsen, pendiri republik Cina, Mao Zedong, Deng Xiaoping, Ne Win( Diktator di Myamar, dahulu Burma), Li Peng ( Mantan perdana Menteri di Cina), Lee Tenghui ( Mantan Presiden Di Taiwan ). Ada Suatu Keunikan, Ketika ketiga orang keturunan di Hakka, menjadi pemimpin di tiga negara pada waktu yang bersamaan, yaitu Deng Xiaoping berkuasa di RRC, Lee Tenghui menjadi Presiden di Taiwan dan Lee Kuen Yew menjadi  Perdana Menteri Di Singapura.

" Di katakan bahwa Lee Kuan Yew adalah salah satu keturuan dari Tionghoa yang berasal dari Republik Lan Fang dan hakka yang merupakan kelompok minoritas di Singapura yang memaikan peran penting dalam mendirikan Lan Fang Kongsi kedua Di Singapura "

Tidak ada komentar:

Posting Komentar